Senin, 18 November 2013

Maafkan Aku Puteri.


maafkan aku yang tak mampu mencintai selain dirimu.
maafkan aku yang tak mampu meredam perasaan ku.
maafkan aku yang tak mampu untuk tak memikirkan mu.
maafkan aku atas segala ketidak mampuan ku.

engkau adalah keputusan terbesar dalam hidup
tempat untuk menyandarkan harapan.
engkau adalah matahari terindah sepanjang perjalanan
penerang langkah menuju surga.

maafkan aku yang hanya mampu menjadi bintang redup.
maafkan aku yang hanya mampu menjadi suara sayup.

aku tak tau, apakah aku layak untuk meminta mu bertahan,
sedangkan ku sadari hampir tak ada kemulyaan hidup yang aku miliki.
apakah aku patut memohon mu untuk tinggal,
sedangkan hanya sedikit ketenangan yang bisa aku berikan?

maafkan aku yang telah membawa mu dalam keadaan sulit.
maafkan aku yang telah melukai mu.
maafkan aku yang telah membebani mu.
maafkan aku yang tak termaafkan.

jika dengan adanya diriku hanya membuat mu ragu untuk menentukan pilihan,
biarlah aku yang pergi menghilang dari kehidupan.
biarkan segala doa tertelan sepi.
biarkan semua mimpi terkubur dalam kesendirian,
dan terbang mencari tempatnya bersemayam.
kalau hanya menjadi hantu aku pun tak tahu.

maafkan aku yang tak mampu membuat mu percaya.
maafkan aku yang tak mampu membuat mu bahagia.
maafkan aku yang lemah tak berdaya.
maafkan aku dengan seluruh kerapuhan ku.

demi kebahagian mu aku rela menanggung sakit sepanjang musim.
demi ketenangan mu aku rela lenyap tersapu senyap,
hingga tak kau dengar lagi gema dari suara nama ku,
dan tak kau temukan lagi serpihan jiwa ku yang selalu merindukan mu.

jika kau telah memilih jalan lain yang lebih indah,
tak perlu engkau resah mencari alasan,
karena sedari dulu aku sudah siap
jika suatu saat nanti harus menjadi batu usang yang terabaikan.
karena ku sadari kesempurnaan permata akan lebih menentramkan jiwa.

maafkan aku yang hanya mampu membantu mu dengan doa.
maafkan aku yang hanya mampu menyapa mu lewat hati.
maafkan aku yang tak mampu melihat mu.
maafkan aku dengan segala kepengecutan ku.

tak perlu kau pertimbangkan kecewa ku,
karena sebelum mengenal mu aku sudah terbiasa dengan rasa sakit.
meskipun semua ini jauh lebih menyesakkan,
tak perlu kau cemaskan keadaan ku.
karena mimpi mu jauh lebih berharga dari pada sekedar aku.
biarlah aku sendiri yang mensyukuri keheningan.
cukup aku sendiri yang merasakan pahitnya kehilangan,
dan getirnya kebisuan.
biarkan aku tertunduk mengadu pada Tuhan
tentang segala ketidak mengertian,
tentang segalanya yang tak terduga,
dan tentang ketabahan untuk menjalani sisa hidup
yang harus aku selesaikan.
entah bagaimana cara Tuhan mengaturnya.

waallohu a'lam.
rodhiitu billahi robba.

Senin, 14 Oktober 2013

Jawaban dan Kabar Untuk Mu, Puteri.

Dear PrincesS.

Apapun yang terjadi saat ini, ku harap engkau selalu dalam lindungan, dan hidayah Allah Subhaanahu waa Ta’ala… amiin.

Maaf, jika kali ini aku mulai mengganggu mu lagi. Namun sungguh bukan itu maksud, dan tujuan ku.
Aku yakin kau mengerti.

Kemarin tanpa sengaja  aku melihat mu lagi, memakai baju coklat warna kesukaan kita. Meskipun sekejap namun sangat membekas.
Maaf jika terpaksa aku berpaling muka ketika melihat mu, atau melihat mu dengan tatapan yang kurang menyenangkan. Sungguh bukan karena aku membenci mu, karena dalam hati kecil ku selalu ingin melihat mu.
Aku hanya ingin menjaga mu - juga diri ku sendiri - dari penglihatan yang tak semestinya. Aku yakin kau memahami.

Aku bisa saja menemui mu, dan memberikan sesuatu yang berharga, atau sekedar kata2. Tapi,sungguh aku tak punya keberanian, dan tak sampai hati untuk mengkhianati Abah dan Ibu di ndalem sendiri. Sudah sangat banyak kesalahan ku kepada Beliau, semoga Beliau memaafkan ku. Semoga aku dan kamu selalu kuat bersabar, dan memegang teguh amanah, dan ajaran Beliau…amiin.

Namun jangan berpikir kalau kehadiran mu mengganggu ku, karena selamanya aku tidak pernah merasa terganggu dengan kehadiran mu. Sungguh.
Bahkan kehadiran mu sedari dulu kurasakan akan menjadi pelengkap hidup ku. Dan ku sadari jiwa mu adalah cerminan jiwa ku.
Sampai detik ini aku masih menyimpan semacam keyakinan bahwa masa indah akan terajut berdua, meski dunia kadang menolak kita. Entah bagaimana kenyataannya nanti.
waallohu a’lam.

Maafkan aku Puteri... Maafkan aku yang hanya bisa menemani mu dari balik pintu.
Maafkan aku yang hanya mampu menyapa mu ditembok hijau yang menjadi saksi bisu kerinduan kita.

Terima kasih atas kehadiran mu dalam hidup ku.
Terima kasih atas cinta mu yang harum.
Terimakasih telah merobohkan keangkuhan ku.
Kau telah mengajarkan banyak hal dalam hidup.
Dengan mu aku mampu menyadari bahwa aku hanyalah seorang hamba yang lemah. Bersama mu aku tau bahwa hidup tak selalu seperti apa yang kita inginkan.
Kini aku mulai menikmati indahnya bertawakkal.
Kau ajarkan aku tentang kemulyaan kerendahan hati, dan ketabahan yang sebelumnya sulit aku mengerti. Dengan sabar kau bersedia membasuh lukaku.
Dengan sabar kau bersedia menunggu ku, dan menahan hasrat hati.
Ketika dunia ku mulai berantakan kau mampu mengingatkan, dan menenangkan ku.
Saat itulah aku mulai merasa bahwa kau telah menjadi bagian yang sulit tergantikan dalam hidup.
Saat itulah aku mulai bertekad untuk menjadikan mu wanita yang paling bahagia setelah ibu.
Namun maafkan aku jika ternyata yang terjadi saat ini sebaliknya. Maafkan aku jika telah membuat mu bersedih.
Ingin ku tebus setiap tetes dari tangisan mu, namun masih saja tak tau dengan cara apa aku harus membayarnya.
Maafkan aku, Puteri…

Kini aku mulai tak mampu menutupi segala yang tersimpan.
Ternyata beban itu terlalu berat untuk ku tanggung sendiri.
Bara itu terlalu panas untuk ku genggam sendiri.
Ingin ku bakar segala yang ada didepan ku, termasuk diri ku sendiri. Namun sejuta tangan selalu menahan ku.

Maafkan aku, jika kali ini aku berbagi kesedihan. Sungguh. aku mulai tak mampu  menjadi penipu. Ratusan hari aku bersembunyi dari mu, meskipun disatu sisi aku terus memikirkan mu.
Berjam2 aku habiskan untuk membaca tulisan mu, membaca segala percakapan kita.
Melupakan sejenak gejolak hidup yang melelahkan.
Berhari2 aku coba untuk memulihkan diri dari perasaan sakit.
Hingga akhirnya keadaan harus memaksa ku untuk rehat dirumah selama beberapa bulan.
Tak ada yang tau, dan tak ada yang ingin ku beri tau ada apa dibalik semua itu. Termasuk kamu.
Biarlah aku dan Tuhan ku yang mengetahuinya.
Maaf jika dulu aku bersikap keras kepada mu, mengacuhkan mu.
Aku hanya ingin membantu mu melupakan ku, meskipun disatu sisi aku sangat tersiksa, karena bagaimanapun juga aku tak mampu mengacuhkan cinta yang mendekap ku.
Bahkan aku rela kau membenci ku, asalkan pearsaan itu tak lagi menghambat langkah mu.
Aku sudah tak perduli dengan sakit yang aku derita.
Bagaimanapun juga aku harus mampu menahannya asalkan engkau bahagia.
Maafkan aku jika pada hari kelahiran mu aku tak hadir menyapa mu. Karena aku hanya ingin menyapa mu lewat doa dengan Tuhan ku.
Aku tidak sama dengan mereka.
Aku yakin kau sepenuhnya mengerti.

Maafkan jika dulu aku terpaksa meninggal kan mu, Puteri.
Sungguh bukan karena merasa kau tak berarti lagi.
Aku hanya ingin menjaga mu dari prahara dunia ku.
Aku tak ingin menyibukkan mu dengan segala masalah yang menimpa ku.
Meskipun terlihat sangat tidak adil, namun aku merasa itu lebih baik sebelum terlalu jauh menyakiti mu.
Tadinya aku berfikir semuanya akan baik2 saja, dan berjalan mudah seperti yang sebelumnya.
Aku berfikir kau akan segera bebas dari perasaan yang mengganggu mu selama dengan ku.
Namun semuanya malah justru menjadi semakin runyam, semakin tak ku mengerti., dan semakin tak terkendali.


Kian hari aku semakin merasa bahwa semuanya diluar batas kemampuan ku.
Meskipun aku terus berusaha tegar, namun tetap saja terasa lemah, dan melelahkan.
Bukan  hanya karena memikirkan keadaan mu, namun juga karena memendam perasaan yang tak mereka mengerti.

Kini kita hanya seperti sepasang ikan yang hidup dimangkuk kecil. Kita butuh pengakuan, Putri…
Biarkan aku berteriak lantang menembus semua genderang bahwa aku mencintai mu.
Biarkan mereka mengerti bahwa kita ingin saling memiliki.
Entah sampai kapan aku mampu terus bertahan hitam menipu diri, Puteri…

Jangan kau kira aku tak memikirkan jalan untuk kita bersama.
Jangan kau kira aku tak perduli dengan segala yang terjadi diantara kita.
Diam2 aku terus memikirkannya.
Diam2 aku terus menangisinya dalam doa.
Mencari cara, dan celah dari jalan yang Allah takdirkan untuk kita.
Jika kau tau, sudah terlalu banyak kekhawatiran, dan mimpi yang tertelan doa dan kesunyian…Puteri.

Kemarin aku coba beranikan diri untuk matur kaleh ibu.
Dengan sehalus mungkin aku menyampaikannya.
Dan tak ku sangka, kali ini Ibu menanggapinya berbeda dari yang sebelumnya.
Dengan tenang beliau mendengarkan ku berbicara.
Dengan sabar ibu menunggu ujung dari apa yang aku ungkapkan.
Bahkan diluar dugaan ku, ibu mulai menanyakan mu.
Aku merasa itu bukan sekedar pertanyaan seorang ibu yang ingin membahagiakan anaknya, melainkan pertanyaan ketertarikan dan ketulusan.
Jujur, seketika itu juga air mata ku menertawakan ku lagi. Kali ini aku tak ingin menahannya. Biarkan dia keluar bersama letih yang kian mendidih.
Bahkan sesekali ibu mulai menggoda ku.
Lebih dari dua jam aku menceritakan semua tentang kamu, dan keluarga mu sebatas yang aku mengerti. Ibu pun selalu menanggapinya.
Aku coba beranikan untuk mengungkapkan hal2 yang selama ini hanya aku dan Tuhan ku yang tau, karena aku juga manusia biasa yang penuh dengan kelemahan.
Dan satu hal yang mampu membuatku cukup lega adalah ketika ibu bilang “ yo wes, engko tak cerito karo Bapak, dirembuk disek “.
Kalimat itu terdengar bukan sekedar ungkapan, melainkan memikirkan suatu jalan untuk kita.
Alhamdulillah beban yang tersimpan selama ratusan hari kini mulai terluapkan dengan tenang, tanpa menyinggung perasaan beliau.
Bahkan Ibu mulai bersedia terbuka menjadi tempat curahan hati ku.

Dulu setelah kita memutuskan untuk berpisah, aku berdoa semoga perpisaahan ini adalah awal dari penyucian diri untuk bertemu kembali.
Bukannya aku bermaksud menjanjikan mu sesuatu, namun semenjak itu aku mempunyai ‘azm; sebelum engkau memilih yang lain, aku tak akan melaksanakan akdunnikah dengan wanita manapun. Karena selama itu juga aku selalu merasa bahwa mimpi itu masih terlalu indah untuk aku tanggalkan, dan masih sangat mungkin untuk menjadi kenyataan atas kehendak Nya.
Aku tak ingin menghapus mimpi itu.
Biarkan dia bermuara pada tempat dimana ia digariskan.

Mimipi itu kini mulai bersemi kembali.
Semoga ini adalah awal dari jawaban atas segala doa, dan ketabahan kita. Semoga memang demikian adanya…amiin.
Doakan aku, semoga saja aku diberi kemampun untuk membenahi benang2 yang telah kusut ini. Membetulkan segalanya yang kian berantakan, tanpa harus ada pihak2 yang merasa terlalu tersakiti, untuk mewujudkan kenyataan dari mimpi kita menempuh kehidupan Robbani.

Dan mulai detik ini aku ingin berhenti merokok.
Bukan karena aku bosan dengan tembakau, atau karena memperdulikan kesehatan ku, melainkan karena ingin menuruti keinginginan dua wanita yang berarti dalam hidup ku; Ibu dan Kamu.
Doakan saja semoga sebatang gudang garam ini menjadi asap terakhir yang ku hisap.

Yaa Alloh yaa Ilaahana…
Kita tak butuh kemegahan, karena dunia kita sederhana dan bersahaja.
Kita juga bukan raja dan ratu, namun yang kita inginkan sederhana, hidup bersama layaknya sepasang hamba yang hidup dengan ridlo Sayyidnya.
Maka aku mohon dengan segala kelemahan, dan kerendahan hamba, izinkan kami hidup bersama dengan rahmat dan ‘inayah Mu.

Wa ufawwidhu amriy ilaalloha innalloha basiirun bil’ibaad.

Sabtu, 17 Agustus 2013

Kita

Aku ingin membawamu di kehangatan fajar.
dimana cahaya bulan dan bintang belum sepenuhnya pudar,
dan langit mulai terlukis atsar matahari
yang hampir lahir dari perut bumi.

Tak ada kegaduhan,
yang terdengar hanya salam sang mawar
dan doa sang kumbang yang mengamiini munajat kita tentang cinta dan ketabahan.

Jutaan kata kita rangkai bersama,
mengalir deras sebagaimana air mata yang kita tumpahkan.
Entah itu untuk kesedihan,
ataupun pengharapan.

Kau basuh luka ku dengan harum peluh mu,
dan ku usap peluhmu dengan jari - jemari ku
yang ku sadari mulai tak berarti

Setiap nafas yang kita hembus adalah kerinduan.
Setiap jalan yang kita tempuh adalah pengabdian.

Meskipun tak sempurna,
namun tak ada yang terbuang percuma.
Karena setiap detik, kita saling melengkapi,
bersama menempuh kehidupan jalan robbani.

:')

Kamis, 13 Juni 2013


Equilibrium

bila hidup mu menjadi hidup ku
semua yang nyata telah dikuasai kiasan.
sungai bukan sungai,
melainkan waktu.
suara bukan suara,
melainkan ruang.
jalan ku lebih gelap dari malam.
hidup ku bagaikan angkasa padam-
dalam genggaman Tuhan.

Maka,
perkenankanlah aku tuk meminjam hati mu
untuk ku jadikan matahari.
dan pinjamkanlah pula sepasang kaki mu
untuk ku mencari jalan ke surga.

Sabtu, 15 September 2012

dear Allah


my dear Allah..
aku tidak meragukan bahwa Kau selalu menyayangiku tanpa mengharapkan apapun dariku, tapi aku meragukan ketulusanku sendiri dalam mengabdi padaMu.
aku tidak meragukan bahwa  apapun yang telah Kau tetapkan adalah yang terbaik untukku, tapi aku meragukan keikhlasanku sendiri dalam menerima semua takdirMu.
aku tidak meragukan bahwa Kau Yang Maha mendengar lagi Maha mengabulkan do'a, tapi aku meragukan kepatasan diriku sendiri untuk dapat didengar olehMu.
aku takut, bahwa ternyata pengabdianku selama ini hanya ingin "memperalat" dan "memanfaatkan"Mu  dalam memenuhi semua keinginanku. karena ternyata, lebih banyak apa yang ku minta dari apa yang dapat ku "beri"kan padaMu.
aku takut, bahwa semua ini malah bukan bentuk pengabdianku padaMu dan hanya sebuah pelarian dari kesedihan semata. karena ternyata, aku lebih banyak mengeluh dan menangis di hadapanMu daripada bersyukur dan bergembira atas segala rahmatMu yang tak terbatas padaku.
aku takut, bahwa cintaku padaMu hanyalah palsu dan semu. karena ternyata, aku lebih banyak bermaksiat daripada berbuat taat kepadaMu.
karenanya yaa Rohman..
sebab tak mungkin bagiku menjadi kekasihMu, maka mohon bimbinglah aku untuk menjadi hambaMu yang sebenar-benarnya hamba.
sebab tak mungkin bagiku melakukan ketaatan dan menjauhi larangan tanpa rahmat dan pertolonganMu, maka mohon kiranya Engkau tak bosan merahmatiku dan melindungiku selalu.
sebab tak mungkin bagiku mendekatiMu, maka mohon kiranya Engkau sudi untuk tetap berada di dekatku.

bismillah, liridhoo illah.
akan kuawali perjalanan menuju impianku ini dengan menyebut asmaMu, dengan hanya mengharap ridhoMu, dan semoga memang hanya semata-mata mengharapkan ridhoMu.
sudah sangat lama aku menunggu saat ini, Engkau tau pasti akan hal itu.
masih ingatkah Kau dulu dengan pertanyaan-pertanyaan bodohku tetang mimpi-mimpiku padaMu ??
aku selalu bertanya padaMu tentang apakah Kau akan mengizinkanku, apakah aku pantas, apakah aku mampu, dan seribu apakah yang lainnya.
tapi kini aku mengerti, Kau telah mengizinkanku sejak lama, hanya saja Kau ingin aku mendapatkan pelajaran-pelajaran yang berharga di luar sana terlebih dulu.
kini aku tau, bahwa tak perlu kepantasan untuk melakukannya. karena siapapun pantas, selama menetapi agamaMu dan mempunyai niat untuk mendapat ridhoMu.
kini aku sadari, bahwa tak butuh keraguan untuk mencapainya, karena yang dibutuhkan adalah keberanian dan kekonsistenan dalam menjaganya.
terima kasih Allah telah memberikanku kesempatan ini.. :')
karena memang hal inilah satu-satunya yang paling ingin ku lakukan, kalau pun hidup bukan cuma sekali, berapa kali pun, inilah yang ingin tetap ku jalani.

my lovely Allah..
di dunia ini mungkin aku tak bisa memberikan apapun untuk kedua orang tuaku, tapi dengannya semoga menjadi sebab untuk bisa memuliakan beliau berdua di akhiratMu kelak, dan semoga bukan malah menjadikannya sebab murkaMu pada keduanya.
mungkin saat ini aku adalah hambaMu yang paling rewel dan mbrengkel, tapi dengannya semoga menjadikan sebab untukku menjadi manusia yang lebih taat kepadamu dan mendatangkan rahmatMu untukku. dan semoga bukan malah menjadikannya sebab kemaksiatanku dan mendatangkan murkaMu padaku.
semoga dengannya menjadikan sebab bagiku dan keluargaku untuk mendapat pengampunanMu, dan bukan malah menjadikannya sebab mendapatkan siksaMu.
semoga dengannya menjadikan sebab untukku dan keluargaku kembali padaMu dalam keadaan khusnul khotimah dan bukan malah menjadikannya sebab kembali dalam keadaan suul khotimah

aku menyadari sepenuhnya bahwa otakku tidaklah cerdas, pikiranku tidaklah tajam, hatiku belumlah bersih,  dan ingatanku sangatlah payah.
tapi dengan rahmatMu, aku yakin mampu.
dan mohon karuniakanlah semua itu padaku.
karuniakanlah kecerdasan untuuku, agar dapat menangkap setiap hikmah dari tanda-tandaMu.
mohon karuniakan pikiran yang tajam untukku, agar mampu memahami setiap makna dari ayat-ayatMu.
mohon bersihkanlah hatiku dari segala macam penyakitnya, yang menjadikan sebab benciMu padaku. agar lebih mudah bagiku untuk menerima kebenaranMu.
mohon kuatkanlah ingatanku dan mampukanlah aku untuk menjaganya sepanjang waktu,
serta berikanlah kekuatan, untukku dapat mengamalkan dan menyalurkannya pada diri sendiri, keluarga dan untuk sesama. aamiin.

ya Allah, semoga sabar, lancar dan hasil maqsud.. aamiin...

illahi robby, anta maqshuudy wa ridhooka mathluuby.
bismillahi tawakkaltu 'alaAllah. laa haula wa laa quwwata illaa billah. (n_n)

Jumat, 14 September 2012

suratku untukmu


dear, my sweetheart..
bagaimanakah kabarmu hari ini ??
semoga senantiasa dalam lindunganNya.
masihkah hatimu resah dengan hal itu ??
harusnya kau paham bahwa sama sekali tak ada maksud dari tulisanku untuk menyakiti hatimu atau bahkan dengan sengajanya ingin membuatmu merasa bersalah dan bersedih. Semua ini hanya ungkapan dari apa yang ku rasa, yang terkadang tak mampu ku bagi dengan siapapun juga.
kau tidak berpikir bahwa masalahku hanya tentangmu saja bukan??
sehingga kau selalu merasa bahwa kesedihan yang ku tulis dalam status adalah karenamu semata.
Lalu aku harus bagaimana sekarang??
Sejak aku menyayangimu, kau sudah menjadi orang yang lebih penting dari diriku sendiri.
aku jadi ingin tau, bagaimana sebenarnya perasaanmu saat bersamaku?? entah itu saat bertatap muka, bertegur sapa, atau saat hanya berkirim pesan semata.
samakah seperti yang ku rasakan?? yang merasa begitu bahagia, damai dan nyaman, seperti telah menemukan bagian dari diriku yang hilang.
ataukah hanya perasaan bersalah yang selalu mendera??
terlepas dari apa yang terjadi di antara kita. tak pernahkah sejenak saja kau merasa damai saat bersamaku ?
aku tak ingin kau mengingatku jika karenanya hanya akan membuatmu tersiksa,
aku tak ingin kau mengenangku jika karenanya hanya akan membuatmu terluka.
akan lebih baik jika kau menganggapku tak pernah ada.
karena, aku berharap saat kau mengingatku, hanya ada senyuman yang mengembang di wajahmu, mengetahui masih ada seseorang yang menyayangimu apa adanya dirimu.
aku berharap saat kau mengenangku, hanya ada perasaan bahagia dan damai yang menyelimuti jiwamu, mengetahui bahwa ada seseorang yang selalu memasukkan namamu dalam daftar nama orang yang disebutnya dalam setiap untaian do'anya.

Menyayangimu adalah perasaan terindah yang Allah anugerahkan kepadaku.
yang dengannya aku ingin memuliakanmu, yang dengannya aku ingin menjaga dirimu dan diriku, yang dengannya ingin membuatku menjadi halal bagimu, yang dengannya membuatku bersedia selalu mendampingimu, yang dengannya membuatku belajar tentang banyak hal. tentang mencintai, tentang kesabaran, tentang memaafkan, tentang kasih sayang.
aku tak ingin lagi menodainya dengan keegoisanku. aku sudah cukup menyesal pernah menodai perasaan suci ini dengan menjalin hubungan yang tak diridloiNya denganmu.
aku selalu berkeyakinan bahwa selama takdirNya belum berwujud dalam nyata, selama itu pula aku masih sangat percaya pada keajaiban, keajaiban dari kemungkinan-kemungkinan yang ada. meskipun semua berkata tak mungkin, yang ku tau pasti, tak ada 1 hal pun yang tak mungkin bagiNya.
namun jika kita memang tak ditakdirkan untuk bersama, biarlah ini menjadi yang terakhir dari sebuah ungkapan rasa, jika memang tak ada lagi kesempatan untukku, aku tak ingin lagi membahasnya di lain waktu.
ku mohon juga padamu untuk tak pernah lagi menceritakan tentangku dengan siapapun yang akan menjadi istrimu kelak atau pada siapapun juga, aku tau harus ada keterbukaan antara pasangan juga tentang masa lalu, tetapi jika kita memang tak harus bersama, cukuplah aku menjadi bagian dari kepingan sejarahmu yang hilang, dan anggaplah ini adalah wasiat dari orang yang sudah tiada hingga kau harus menunaikannya.

aku sangat merasa bersalah padamu yang terus saja menyalahkan diri sendiri dengan keadaanku. hatiku sangat perih jika kau seperti itu, sama halnya perihnya hatimu melihatku merendahkan diriku sendiri, karena pada dasarnya kita memang tak akan sanggup melihat satu sama lain terluka.
meskipun sebenarnya aku masih sangat ingin bersamamu dan diam-diam ada perasaan sangat bahagia saat mengetahui bahwa harapan kita masihlah sama seperti yang dulu, tapi di lain sisi aku juga sangat merasa bersalah pada dia yang saat ini bersamamu, pada dia yang dipilihkan ibu untukmu, yang mungkin saja kehadiranku hanya menyakitinya. entahlah..
tolong mohonkan maafku untuknya.

namun sekalipun demikian, aku ingin kau tau bahwa aku akan tetap menepati janjiku untuk menunggumu sampai pada batas waktu yang kau minta dulu. ku harap ini tak membebanimu.
jangan pula kau anggap aku sedang mengikatmu, karena tak ada niat dan hak bagiku untuk melakukan itu. anggap saja ini hanyalah bentuk dari ke-konsisten-anku dalam memegang sebuah janji. karena, saat dulu aku mengatakan bersedia menunggumu, saat itu pula aku telah berjanji pada diriku sendiri, pada dirimu, & juga pada Allah-ku.
janji yang terlahir dari hati, dan yang akan selalu ku jaga dengan hati.

aku juga ingin meminta 1 hal darimu.
jika suatu saat kau harus menikah dengan dia atau orang lain, ku mohon jangan pernah memberitahuku.
aku tak tau bagaimana keadaan perasaanku di tahun-tahun mendatang. jika masih sama seperti saat ini, aku tak yakin mampu. bukan tak yakin, tapi aku tau aku tak akan mampu, aku tak akan pernah mempunyai kesanggupan untuk mendengar kabar itu. karena, hanya dengan memikirkannya sebentar saja sudah membuat seluruh tubuhku gemetaran tak karuan dan juga melelehkan air mataku berjam-jam.
aku tak dapat berpura-pura baik-baik saja, karena memang beginilah adanya. tapi aku tetap sangat berharap engkau akan selalu bahagia dengan siapa saja yang akan bersamamu nantinya.
maaf atas segala ke-pengecut-anku ini..
maaf atas ketidak sempurnaan dan ketidak tulusanku dalam menyayangimu, yang tak dapat ikut tersenyum bahagia mengiringi hari bahagiamu..
maaf telah mengecewakanmu dengan ketidak dewasaanku..
sekalipun begitu, do'aku akan senantiasa mengiringimu.
semoga Allah menjadikanmu imam yang baik bagi keluargamu, mencukupkan rizqimu dan keluargamu, membahagiakanmu selalu, mengaruniakan keturunan yang sholeh dan sholihah, serta merahmati rumah tanggamu sepanjang waktu. dan juga semoga selamat fiddunya wal akhiroh.

dan terima kasih ku ucapkan untuk segalanya.
untuk kesabaranmu menghadapi ke-keras kepala-an dan ke-egois-anku.
untuk hatimu yang selalu tulus menyayangiku.
untuk semua nasehat dan semangat yang tak lelah kau berikan untukku.
untuk semua do'a yang kau panjatkan untukku.
untuk penjagaanmu yang tak pernah meyentuhku.
dan untuk perasaan yang membuatku pernah merasakan menjadi orang yang istimewa di hatimu.

kau adalah seorang lelaki, dan juga orang yang sabar dan kuat. aku tak meragukan bahwa kau akan bisa segera melupakan semua ini setelah tak ada lagi komunikasi diantara kita. mungkin hanya butuh waktu 1 tahun ke depan atau bahkan kurangnya kau sudah bisa melupakanku. tetapi akan lain halnya denganku, kau tau pasti akan hal itu.
karenanya, maafkan aku untuk tak memberitahumu dimana tempatku berada. ini akan baik untukmu segera melupakanku. dan mungkin memang lebih baik jika kita tak lagi bertegur sapa.

atau kalaupun Allah berkehendak lain dan memang menciptakan kita untuk saling melengkapi, biarlah Ia sendiri yang mempertemukan kita dengan caraNya yang terindah.
jika memang akulah rusukmu, Ia sendirilah yang akan menuntun hatimu menujuku.


salam sayang dariku untukmu, untuk keluargamu, juga untuk siapapun yang kelak mendampingimu.

nz

Minggu, 09 September 2012

dirgahayu-ku

9 September 2012
Alhamdulillah...
Robby auzi'nii an asykuro ni'mataka allatii an'amta 'alayya wa 'alaa waalidayya wa an a'mala shoolihan tardhoohu wa adkhilnii birohmatika fii 'ibaadika as shoolihiin. Allahu akbar walillahi al hamd.
Entah apa yang harus ku ucapkan, sepertinya tak ada lagi kata-kata yang dapat mengungkapkan rasa syukurku. terlalu banyak karuniaMu atasku, terlalu besar rahmatMu mengalir dalam setiap nafasku.
hingga saat ini, Engkau masih sudi memberikanku kesempatan dengan menambah usiaku, sementara di lain tempat telah Kau cukupkan usia seseorang dan memanggilnya kembali ke sisiMu.
hingga detik ini, Engkau masih setia mengalirkan darah dalam tubuhku, meletakkan iman dalam hatiku, menetapkan islam sebagai agamaku (semoga Engkau berkenan menetapkannya dalam hatiku sepanjang waktu) sejak kelahiranku yang tanpa pernah ku minta, dan tanpa pernah peduli pula Engkau dengan kerewelanku yang selalu mengeluh kepadaMu.
Engkau Yang Maha Rohman, dengan segala bentuk kemaksiatanku padaMu, Engkau masih saja mengasihiku, secara langsung dariMu, juga wujudnya kasihMu melalui orang-orang di sekelilingku. Aku yang begitu cuek dan tidak peduli, ternyata di luar sana sebentuk KepedulianMu menjelma dalam do'a-do'a dari mereka yang mempedulikanku. baik itu do'a yang diungkapkan langsung untukku, atau hanya do'a yang tersimpan rapi dalam hati mereka sendiri.
Engkau Yang Maha Ilmu, dengan segala keterbatasan otak dan kurang pekanya hatiku, Engkau masih saja dengan sabarnya mengajarkan tentang segala sesuatu kepadaku. Melalui guru-guruku Kau ajarkan aku membaca kalamMu. Melalui langit yang biru, tiupan sang bayu, pohon-pohon perdu, kicauan burung yang bertasbih memujiMu, lautan dan daratan yang terdampar di bumiMu Kau ajarkan aku tentang kebesaranMu. Melalui ujian dan cobaan Kau ajarkan aku tentang kesabaran, ketabahan dan keikhlasan. Melalui segala hal Kau ajarkan aku tentang syukur, dan melalui dia Kau ajarkan aku tentang cinta.
dan masih terlalu banyak hal yang Kau ajarkan kepadaku yang tak mampu kuungkapkan hanya dengan barisan kata-kata.
Walaupun aku hidup beribu-ribu tahun lamanya dan ku habiskan waktuku itu untuk bersyukur dan mengabdi kepadaMu, tak kan mungkin cukup untuk membayar 1 nikmat saja dariMu yang berupa islam itu.
Sekalipun demikian izinkan aku untuk tetap berterima kasih kepadaMu.

my beloved Allah..
Terima kasih atas kelahiranku dalam keadaan iman dan membesarkanku dalam agama islam
Terima kasih atas kelahiran kekasihMu (ShollaAllahu 'alaihi wasallam) sebagai pembimbing kami menuju jalanMu, yang begitu mecemaskan, menyayangi dan mencintai kami, umatnya yang tak tahu diri.
Terima kasih atas turunnya Al Qur'an sebagai pedoman hidup bagi kami, sebagai sumber ilmu alam semesta, serta indah sastranya yang tiada duanya sepanjang masa.
Terima kasih atas kesehatan dan kewarasan yang senantiasa Kau karuniakan kepadaku, keluarga tercintaku, dia yang kau anugerahkan rasa sayangku untuknya serta seluruh keluarganya.
Terima kasih atas semua kesempatan yang masih Kau berikan
Terima kasih atas nafas yang masih Kau hembuskan
Terima kasih atas semua nikmat dan cobaan yang Kau berikan
Terima kasih atas segala rahmat yang tak pernah bosannya Kau curahkan untukku, keluarga tercintaku, dia yang kau anugerahkan rasa sayangku untuknya serta seluruh keluarganya.

aku jadi teringat dirinya. baru saja 1 minggu tak menyapaku, tapi rasanya sudah sewindu. (lebbay)
aku tak berharap mendapat hadiah apapun atau dari siapapun, tetapi andai saja hari ini ada sapa darinya, atau mungkin malah do'a-do'a kecil dan nasehatnya untukku, hal itu pasti akan menjadi kado yang teristimewa untukku.
aku jadi bertanya-tanya, tahu kah dia akan hari kelahiranku??
tapi apa pentingnya semua itu, karena aku yakin di setiap do'anya sudah terselip namaku di dalamnya (pede banget yak).

my lovely Allah..
maafkan jika sikapku berlebihan terhadapnya. maafkan jika perasaan ini salah adanya.
yang ku tahu aku bukan mencintainya hanya untuk bersenang-senang semata, tapi untuk menyempurnakan separuh agamaku bersamanya.
untuk menjadi makmumnya sebagai imam keluarga, untuk menjadi istri yang memuliakannya, untuk menjadi ibu dari anak-anaknya.
karena yang ku yakini, dengannya aku akan lebih dekat denganMu, mencintainya membuatku lebih mencintaiMu, dan menyayanginya membuatku mampu melihat semua bentuk kasih sayangMu.
aku tak berhak apapun atas dirinya, karenanya sebisa mungkin aku ingin mencintainya dalam diamku, aku ingin menyayanginya dalam do'aku.
karena aku tak ingin lagi mengkhianatiMu, aku tak ingin lagi mengulang kesalahan yang sama yang hanya akan menjauhkan kami dariMu.
aku sangat bersyukur Kau masih dengan tulus menyayangi dan menjaga kami, memberikan jarak pada kami. sekalipun mungkin jarak ini untuk selamanya, tapi bukan tidak mungkin juga kalau jarak ini hanya sementara dan telah Kau persiapkan untuk kami sebuah pertemuan yang lebih mulia dan untuk selama-lamanya.(aamiin)
aku juga sangat berterima kasih karena Engkau masih setia menjaga iman kami, yang tak Kau biarkan kami melakukan hal-hal bodoh dan tak Kau ridloi sekalipun rasa sakit sangat menyiksa kami.
sekalipun aku yakin, tapi harus jujur ku akui bahwa terkadang aku sangat takut. aku tak punya apapun yang bisa kuandalkan, kecuali Engkau. Engkau yang menurut perasaanku sangat menyayangiku. tetapi justru itulah yang menjadi kekuatan terbesarku.

my dear Allah..
di "dirgahayu-ku" ini, izinkan aku memohon sesuatu..
mohon Engkau mewujudkan dan memudahkan apapun yang menjadi impiannya, atau kalaupun tidak mudah mohon Engkau kuatkan dan tabahkan dirinya untuk tetap tegar melangkah.
mohon Engkau jaga dia di manapun dia berada dan tetapkanlah islam sebagai agamanya selamanya..
mohon Engkau ambil rasa bersalah dari dalam hatinya dan menggantinya dengan rasa damai..
mohon Engkau karuniakan kepadanya ilmu yang manfaat dan berkah, sehat wal 'afiyah serta umur yang berkah..
mohon Engkau menjadikannya hambamu min muqiimissholah ilaa yaumil qiyaamah..
mohon Engkau rahmati dia dan seluruh keluarganya serta saat tiba waktunya nanti Kau memanggilnya dalam keadaan khusnul khotimah..

aamiin aamiin aamiin yaa mujiiba as saailiin..

dan selamat ulang tahun untukku. may Allah blessed and protect me as always.. :))

Selasa, 28 Agustus 2012

Coretanku

saat itu 22 juli 2012 M tepat pada malam 2 ramadhan 1433 H.
Aku masih ingat sekali, malam itu tak seperti biasanya, rasa rinduku sudah sangat menggila.
Rasaku sungguh sangat lelah hingga hatiku terus saja meronta :
" Tuhan, aku tak mengerti apa yang sebenarnya Kau kehendaki, ujian, cobaan atau apakah ini, tapi sungguh aku tak sanggup lagi. Jika memang dia bukan untukku, tolong musnahkan rasa ini atau jika kau terlalu menyayanginya dan tak mengijinkan rasaku pergi, maka tak mengapa jika harus aku yang Kau bawa pergi "
sedikitpun aku tak bertenaga, semangat hidupku sirna.
sedangkan air mataku terus saja mengucur dengan derasnya, dan mulutku ini terus saja beristighfar menyebut asmaNya berusaha menentramkan hati yang merana, hingga akhirnya aku terlelap begitu saja.
tengah malam sayup-sayup terdengar suara, seperti dari handphone ku, dan lagu ini aku sangat mengenalnya.
bukankah ini "paradise" ??? :') :')
seketika jantungku berdebar dengan hebatnya, semua rasaku bercampur aduk jadi satu antara bahagia, haru, percaya dan tidak percaya, hingga akhirnya lagu itu berhenti. perlahan ku buka handphone ku, 1 missed call dan 2 messages, tertera namamu di sana. Benarkah ini kau?? mimpi atau nyatakah ini??
aku sedikit tak percaya, bahkan aku mencubiti diriku sendiri untuk memastikan bahwa ini bukanlah mimpi.
aku tak tau apa rencanaNya dengan semua ini, tapi yang jelas aku sangat bersyukur, dan aku sangat berterima kasih padamu karena masih menganggapku ada. Segera ku tata hatiku sedemikian rupa, aku tak ingin salah paham, ku ingatkan lagi diriku tentang siapa aku. ku yakin-yakinkan hatiku bahwa mungkin Tuhan hanya ingin menghiburku. sekalipun begitu, sungguh ini sudah lebih dari cukup untuk membuatku merasa sangat bahagia hingga aku tak dapat lagi memejamkan mata. Terima kasih Tuhan.

Aku seperti hidup kembali, tak pernah aku sesemangat ini, dan ini membuatku tertegun, aku seperti menyadari sesuatu, sepertinya Tuhan telah menjadikanmu sebagian dari diriku, sebagian dari nyawaku, entahlah.. ada rasa sakit menjalari ulu hatiku saat kupikirkan tentang hal itu. Aku kembali beristighfar dan menata hati. Sore harinya kau sms lagi, dan beberapa hari berikutnya, sungguh aku senang bisa bertegur sapa lagi denganmu, sekalipun aku harus setiap waktu mengingatkan diriku akan tempatku.
Kemudian aku berpikir tentang sesuatu, sebenarnya apa yang membuatmu menghubungiku lagi?? aku tau kau tak kan kembali, tapi untuk apa??
dan malam itu mungkin menjawab semua, tiba-tiba kau menyampaikan salam dari seseorang, sekalipun sebenarnya aku sudah menduganya tapi tetap saja ku tanyakan padamu dari siapa. dan benar dugaanku, salam itu darinya, dari seseorang yang akan menjadi calon istrimu. tentu saja pasti inilah alasan mengapa kau menghubungiku lagi. seperti ada ribuan volt listrik menyengatku, aku hanya bisa terduduk lemas dan berpikir mengapa kau menceritakan tentangku padanya, ya tentu saja karena dia yang akan menjadi calon istrimu. sekalipun aku tau bahwa aku tak punya hak apapun akan dirimu dan aku tau ini tak sepantasnya ada dalam hatiku, tapi harus ku akui bahwa aku sangat cemburu, sungguh aku ingin menangis sekencang-kencangnya dan memaki-maki diriku sendiri . "apa yang kau pikirkan?? apa yang kau harapkan?? dasar kau bodoh!! sadar diri kenapa, kau itu bukan siapa-siapa !!" :'(
tapi aku tetap bersyukur karena bagian terwaras dari diriku masih berfungsi, aku kembali beristighfar, membaca tahlil, hauqolah dan apa saja untuk menenangkan dan menguatkan hatiku. maafkan aku Tuhan.
dengan tangan yang masih gemetar aku membalas sms itu. aku tak ingin komunikasi ini kembali membeku, itu  akan lebih menyakitkanku. dan aku juga bersyukur mengetahui bahwa kalian belum ada ikatan resmi sebagai calon suami & calon istri. mungkin ini salah satu cara Tuhan menyayangiku, Ia tau pasti bahwa aku sangat tidak siap jika semua terjadi pada saat ini. Terima kasih Tuhan.
ku tata kembali hatiku dan ku katakan pada diriku sendiri "sudahlah, jika kau benar-benar menyayanginya, fokuslah saja pada apa yang akan kau raih, fokuslah pada mimpimu, dia tak kan suka melihatmu seperti ini, bahkan mungkin akan sangat merasa bersalah, jangan pernah biarkan dirimu mengingatnya lagi, tentu saja kecuali dalam do'a, peluk lah dia erat-erat dalam setiap do'amu, mungkin itu akan membantunya."

Memory otakku memutar ke masa lalu, aku ingat saat itu kau pernah berkata bahwa kau ingin menghabiskan 24 jam waktumu bersamaku, aku bilang tidak mau dan sambil manyun kau tanya kenapa padaku, kemudian aku menjawab bahwa aku tak ingin hanya 24 jam saja, tapi selamanya. lalu kau pun tersenyum.
rasanya getir sekali aku mengingatnya, karena kini kau telah bersamanya, seorang gadis yang dipilihkan ibumu untukmu. sebenarnya aku ingin sekali mengenalnya, bukan karena apa-apa, hanya ingin memastikan bahwa dia benar-benar bisa menjagamu. tapi rasanya itu tak perlu, karena aku yakin gadis itu baik untukmu. darimu aku juga tau bahwa dia masih sangat belia, tapi sepertinya dia jauh lebih dewasa dari umurnya, bahkan mungkin jauh lebih dewasa dariku dan tentunya jauh lebih baik dariku. ya, kau memang lebih pantas didampingi orang sepertinya. kini aku tak lagi mencemburuinya, bahkan aku mulai menyayanginya, karena bagaimanapun mungkin saja nantinya dialah yang akan mendampingimu. jika kau menyayanginya, maka aku harus menyayanginya pula. cinta memang seringkali aneh, dan bahkan kini aku mulai menyayangi rokokmu, setidaknya dia ada dan mampu sedikit merileks-kan mu dari penat yang ada, yang bahkan aku sendiri tak bisa melakukannya sekalipun aku sangat ingin menjadi pelipur laramu.

Tapi entahlah, kadang aku tak mengerti diriku sendiri, aku selalu meyakini bahwa takdir itu ada di tanganNya, dan seringkali juga hatiku berkata "biarlah orang tuamu menjodohkanmu dengannya asalkan Tuhan menjodohkan kita." ternyata masih ada harap dalam hatiku. Aku memang sudah seringkali mencoba membuka hati untuk yang lainnya, tapi sepertinya Tuhan tidak mengijinkannya, hingga aku berpasrah saja, aku sudah tidak peduli, bahkan jika Dia menghendaki agar aku hidup sendiri, aku akan menerimanya dengan lapang dada. bahkan pernah terpikir olehku bahwa tak mengapa jika aku harus diduakan olehmu asalkan aku bisa mendampingimu, bukan memilikimu, tapi mendampingimu, menjadi makmum yang baik bagimu, menjagamu, menyayangimu, merawatmu dan membahagiakanmu seumur hidupmu. karena ternyata memang hanya kau lah yang membuatku merasa bersedia untuk mendampingi.
tapi segera kuhilangkan pikiran bodoh itu, mungkin aku bisa, tapi bagaimana dengannya?? aku tidak akan pernah tega, lalu bagaimana pula denganmu?? bukannya aku meragukan akan kemampuanmu untuk adil, tapi bagaimanapun kau adalah manusia biasa, tak mungkin aku membiarkanmu berlumuran dosa hanya karena pernah sekali saja lebih condong pada salah satu diantara kami. dan aku tau, hatimu itu terlalu lembut untuk mempunyai ke-tega-an menduakan istri. ya sudahlah, aku percaya pada gadis itu, sebaiknya aku yang pergi karena kehadiranku tak diharapkan di sini.

Beberapa hari berlalu seperti biasanya, dan aku cukup bahagia dengan adanya dirimu, sekalipun hanya pesan kosong yang kau kirim, tetap saja masih cukup untuk membuatku tersenyum. hingga pada saat dini hari itu, emosiku berada pada titik labil, dan kau mengatakan sesuatu yang sangat membuatku terpukul. sebetulnya hal itu tak perlu terjadi, tapi aku benar-benar marah hingga keluarlah kata-kataku yang mungkin membuatmu terluka, membuatmu takut, merasa bersalah dan sebagainya. harusnya aku lebih bisa mengendalikan emosiku karena kau memang tak begitu memahamiku, karena kau memang tak tau. aku hanya tak habis pikir, bukankah selama ini aku tak pernah mengungkit lagi tentang perasaanku? kubiarkan ia terpendam begitu saja dalam dada. aku tak pernah sekalipun mencoba menghubungimu sekalipun rasa rindu sudah sangat mencekikku, aku memang masih sangat menyayangimu, tapi bukankah aku hanya diam? karena begitulah caraku menyayangimu, dan mendo'akanmu adalah caraku memelukmu dari kejauhan. lalu mengapa kau tiba-tiba mengatakan padaku untuk jangan menyimpan harapan itu? yang bahkan Tuhanpun tak melarang. Mungkin aku terlalu keras hingga sepertinya kau sangat terluka dan mendiamkanku. maafkan aku,  tak ada maksud dari kata-kataku untuk melukaimu. tak satu pun sms ku yang kau balas, dan itu semakin membuatku terluka, inilah yang ku takutkan, membuatmu sedih dan merasa bersalah. aku ingin menjaga perasaanmu, tapi aku malah melukaimu, aku ingin menjadi pelipur laramu tapi aku malah menyakitimu. mungkin aku memang tak pantas untukmu. seketika itu air mataku pun mengalir kembali
.
Pada malam harinya handphone ku bergetar, kulihat ada sms, dan itu darimu. sambil gemetar tanganku membuka sms mu, dan kini aku bisa tersenyum lega, aku sangat bersyukur kau bersedia memaafkanku. Terima kasih. :'))
semoga hal serupa tak pernah lagi terjadi. jika aku melukaimu dengan perkataan atau apapun dariku maka sebenarnya yang lebih terluka adalah diriku sendiri. harus sangat ku akui bahwa bagiku kau masih sangat berarti. kini semua kembali seperti semula tapi ada sesuatu yang membuatku risau, kau menanyakan tentang sesuatu yang sudah lama kusimpan sendiri, tentang mimpiku, tentang cita-citaku. aku harus bagaimana menjawabnya. aku jadi serba salah. memang sejak semula aku ingin menceritakannya padamu karena aku memang butuh saran dan masukan, tapi aku takut kau salah paham. akhirnya kuceritakan juga tentang mimpi-mimpiku padamu, tak peduli lagi apa anggapanmu terhadapku, aku butuh sekali masukanmu dan tak ada yang lebih kupercayai selain dirimu. Terima kasih atas semua masukanmu.

Tiba-tiba aku memikirkan ibumu, orang nomor satu dalam hidupmu. Jujur kukatakan bahwa salah satu harapanku adalah bisa bertemu beliau, mengenal beliau, bahkan jika mungkin aku ingin belajar darinya tentang bagaimana mendidik putranya sehingga bisa menjadi anak yang begitu berbakti sepertimu. sungguh, aku mengagumi beliau. adakah kesempatan untukku Tuhan?? semoga Engkau memanjangkan dan menjadikan umurnya berkah.

Entahlah, aku masih sungguh tak mengerti dengan diriku, sekalipun aku bisa merelakanmu, tapi harapan itu tetap saja masih  tersimpan dalam hatiku. biarlah, biar saja ini menjadi urusanNya..
kini aku malah teringat kata salah seorang temanku, "jodoh memang di tangan Tuhan, tapi cinta masih butuh perjuangan". ku pikir itu memang benar, selagi tujuan kita baik, mengapa tidak. aku mulai berandai-andai.
ah, andai saja pada posisi sama seperti ini tetapi aku yang laki-laki, tentu saja sudah ku akhiri kekonyolan ini. aku tak mungkin membiarkanmu menentang orang tuamu, karena itu aku yang akan mendatangimu. dengan gagah berani yang mungkin juga akan terlihat seperti tak tahu diri atau boleh kau anggap keduanya. aku akan memintamu pada orang tuamu, memang butuh keberanian yang besar untuk merelakanmu, tapi butuh keberanian yang lebih besar lagi untuk bisa membahagiakanmu. dan itu yang sangat ingin ku lakukan. sekalipun mungkin aku ditolak, aku tak akan pernah menyerah sedikitpun, 1.000x ditolak, maka 10.000x  aku akan melangkah maju. semua itu hanya demi satu komitmen, menjadi halal bagimu dan membahagiakanmu. tapi sayangnya aku hanyalah seorang perempuan biasa, yang bahkan tak pantas untuk diperjuangkan siapapun juga.
sudahlah, jika aku terus berandai-andai, maka akan sampai pada saat pertama kali aku melihatmu 6 tahun silam, yang seharusnya tak ada harapan kecil itu, harapan untuk bisa mengenalmu. aku masih ingin tersenyum jika mengingat hal itu. rasanya sangat lucu.

hatiku masih menyimpan berbagai tanya, "Apa kau begitu terbebani dengan harapanku ini? apa kau begitu merasa bersalah padaku? tolong jangan begitu, harapanku ini ku tumpukan padaNya, bukan padamu. semua ini terjadi atas kuasaNya, bukan kuasamu. sungguh rasanya tersiksa melihatmu terus merasa bersalah padaku seperti itu. tapi apa yang bisa ku lakukan? membunuh harapanku kah? jujur saja aku belum bisa untuk yang satu ini, tapi demi dirimu akan ku lakukan apapun untuk bisa mendamaikan hatimu".
tapi apa yang harus ku lakukan, aku harus meminta pendapat siapa. lalu terpikir olehku lebih baik bertanya pada Tuhanku. malam itu aku melakukan sholat istikhoroh, memohon petunjuk dariNya, demi dirimu aku berharap semoga saja yang nampak dalam mimpiku adalah sesuatu yang buruk, dengan begitu aku akan lebih bisa memaksa diriku untuk melupakan semuanya, setelahnya aku akan menceritakannya padamu agar kau terbebas dari rasa bersalahmu itu. tapi sungguh di luar yang ku kira, yang nampak bukannya hal buruk, melainkan sesuatu tempat atau apa tak jelas, yang pasti aku tak melihat apapun kecuali hanya putih, bersih dan begitu bersinar. dan perasaanku, hanya damai, sangat damai. SubhanaAllah, Allahu akbar walillahilhamd.
aku terus bertanya-tanya dalam hati, "ya Allah, apa yang sebenarnya terjadi kali ini, apa makna dibalik mimpiku itu, apakah hatiku terlalu kotor untuk menerima petunjukMu hingga setan yang mengacaukan mimpiku? tapi bukankah setan tidak bisa mengacau pada sesuatu yang putih dan bersinar? lalu apa maksud dari semua ini?". aku mulai merenung dan memikirkan sesuatu. ya, mungkin saja ini memang benar petunjuk dariNya, benar saja yang tampak adalah sesuatu yang baik, beratus-ratus kali sholat pun akan tetap sama hasilnya, karena pada dasarnya kau memang baik untukku, tapi sepertinya tidak berlaku untuk sebaliknya.
aku tak mungkin menceritakan semua ini padamu, yang bisa kulakukan saat ini hanyalah meyakinkanmu bahwa aku baik-baik saja, dan memohon padamu agar membuang semua rasa bersalahmu itu.
dan untukku sendiri, aku tak harus membuang semua harapan itu, biar itu menjadi urusan Yang Menggenggam hatiku. aku tak perlu lagi cemas, risau, galau dan sebagainya. Toh kalau memang aku ini rusuknya, tak akan tertukar dengan siapapun juga.
terlalu banyak kebetulan yang terjadi.
atau mungkin memang sebuah kebenaran.
entahlah.. waAllahu a'lam... (u_u)

Minggu, 26 Agustus 2012

My Sweetest Song for My Sweetest Heart

Mei, 2012
Paradise.
Saat pertama kali aku mendengar lagu ini, entah mengapa semua ingatanku sontak tertuju padamu. 
aku hanya mampu membisu, tergugu, dan membiarkan air mataku meleleh begitu saja di pipiku.
ini bukan perasaan sedih ataupun pilu.
haru, hanya haru yang mengharu biru.
aku tak tau bagaimana Tuhan meletakkanmu sedemikian rupa di dalam hatiku, 
yang jelas saat kudengar lagu ini, perasaanku mendadak asing, aneh.
Ia menghadirkan perasaan yang begitu damai, juga  rasa syukur yang meledak-ledak dalam dada, yang seolah-olah seperti semua harapku telah menjelma dalam nyata.
entahlah, mungkin aku yang terlalu berlebih dalam harapku, mungkin aku yang terlarut dalam lagu, atau mungkin memang salah satu kepekaan rasaku untukmu, hanya Tuhan yang tahu.


Paradise

I remember when i first met you
i felt that God answered my call
there was that one place i always thought about
and i just wanted to be there with you
the place that no eye has ever seen
the place that no heart has ever perceived
i had a great feeling inside of me
that one day i'll be there with you

and now that we're here feeling so good
about all the things that we went through
knowing that God is pleased with us too
it's not a dream, this is so true
feeling the peace all around
seeing things we could never imagine
hearing the sound of rivers flow
and we know we'll be here forever
the feeling is indescribable
knowing that this is our reward

do you remember the hard times we went trought?
and those days we used to argue
but there was not one thing that could bring us down
cause we always had in our minds

the place that no eye has ever seen
the place that no heart has ever perceived
the place we've been promised to live in forever
and best of all, it's just me and you

i remember us praying at night
and just dreaming about this together
i'm so blessed to have you in my life
and now we can enjoy this blessings forever
paradise is where we are now
paradise, a dream come true
paradise, o what a feeling !
paradise, thank You Allah....

Ini hanya sebuah lagu, tapi entah mengapa sampai seperti itu, bagaimana jika menjadi kenyataan?? mungkin aku lebih tak bisa berkata apa-apa, hanya bisa menangis dalam kebahagiaan dan keharuan yang luar biasa.
dan akhirnya saat itu juga ku jadikan lagu ini sebagai ringtone yang khusus untuk nomormu.
entahlah, aku hanya berharap suatu saat dapat kudengar lagu ini dari handphone ku.
bahkan aku sudah lupa kapan terakhir kalinya aku bertegur sapa denganmu.
sekalipun harapannya sangat tipis atau bahkan tidak mungkin, tapi aku tetap berharap suatu saat paradise-ku ini berbunyi, meskipun itu hanya sekali..

Tuhan, aku hanya ingin tahu kabarnya, itu saja.. :(

Dream



21 Maret 2012
Entah apa yang ada di otakku, bagi kebanyakan orang mungkin dapat nilai nem tertinggi adalah suatu kebanggaan, suatu prestasi yang sangat membahagiakan atau bahkan bagi sebagian yang lain hanya bisa di peroleh dalam angan-angan. tapi itu sama sekali tidak berlaku bagiku saat itu. Di satu sisi memang aku senang dapat membuat orang tuaku bahagia atau bahkan bangga, tapi  di sisi lain aku seperti terlempar jauh ke dasar jurang yang terdalam.
 Aku memang sangat berharap bisa lulus, tapi aku sama sekali tidak berharap mendapat nem yang tinggi, karena bagi orang tuaku nem tinggi berarti haruslah kuliah dan itu berarti juga harus ku kubur dalam-dalam mimpiku, cita-citaku.
Bagi emak yang seperti kebanyakan orang jaman sekarang, sukses menurut "versi" beliau adalah mempunyai pekerjaan  tetap dan hidup mapan, yang mungkin sangat jauh berbeda dengan sukses menurut "versi"ku sendiri. Berbeda lagi dengan bapak yang pasti akan selalu mendukung keputusanku selama keputusan itu baik untukku. Akhirnya demi membahagiakan emak dan menghindari keributan, aku menuruti keinginannya. Aku masih ingat sekali saat itu, saat harus mengikuti test masuk sebuah perguruan tinggi pilihan emak, aku seperti seekor kambing yang akan dibawa ke tempat pemotongan, ingin berontak, tapi tetap harus pasrah sepasrah-pasrahnya, sambil terus berdo'a semoga aku tidak diterima. Ku kerjakan soal-soal itu sekenanya saja, bahkan beberapa item ku biarkan begitu saja tanpa terisi. Saat pengumuman pun tiba, aku masih terus berharap semoga aku tidak diterima. Perlahan-lahan ku telusuri kertas pengumuman itu dari yang terbawah karena aku juga sangat meragukan hasil test ku. satu lembar habis dan tidak ada namaku, aku tersenyum. ku cari lagi pada lembar berikutnya, tak ada juga. aku sangat bahagia, dan sampai pada lembar terakhir, ku telusuri lagi dari bawah dan mataku terhenti pada angka 6, namaku. Sial, menyebalkan sekali.
aku pulang dengan perasaan yang tidak menentu, terlalu banyak pikiran yang menyangkut di otakku sambil terus bertanya-tanya, benarkah ini kehendakNya atau hanya ingin menguji kesungguhanku saja?
ya, barangkali ini memang kehendakNya, dan aku mulai mencoba untuk bisa menerima, dengan dan masih terus menyimpan mimpiku dalam dada.
Selanjutnya ku jalani saja hidupku dengan sewajarnya, meskipun seringkali hanya kehampaan yang terasa, hanya kesunyian yang menyelimuti jiwa, tapi aku harus tetap bersabar menjalani semuanya, sampai akhirnya aku lulus dengan gelar diploma yang bagiku tidaklah istimewa, karena ternyata tetap saja terasa masih ada lubang yang menganga dalam dada.

Dan kini, aku terdampar di sini, di tempat perantauan yang tak satu pun orang ku kenali kecuali teman-temanku sendiri.
ku akui aku cukup senang karena aku bisa belajar mandiri, juga ada banyak hal yang kupelajari di sini, aku bersyukur diberikan kesempatan ini. Selama beberapa bulan masih dapat ku nikmati hari-hariku yang cukup menyenangkan, tapi sekarang tak kudapati lagi masa-masa  itu, semuanya berubah sejak pergantian manajemen baru, hari-hariku sepertinya hanya sebatas bekerja dan bekerja, lembur dan lembur. bahkan waktu libur pun aku harus bersedia jika sewaktu-waktu dipanggil. Jika bukan karena rasa peduli terhadap teman-temanku, sudah pasti aku akan menolak. dan bahkan sampai-sampai saat libur pun aku harus "melarikan diri" sejauh mungkin  jika aku sudah merasa sangat lelah. di tambah lagi suasana kerja yang semakin tidak nyaman, serba salah, gunjingan di sana sini, saling menyalahkan.
dan parahnya, kewajibanku sebagai hamba pun seringkali harus berantakan. Belum lagi dengan keterlibatan setan-setan itu. aaaaaarrrghhh.. Aku muak !! Aku Benci !! Aku tak sudi Lagi !! Aku ingin Pergi !! :((

Pandanganku nanar melihat apa yang terjadi, hatiku seperti tertusuk ribuan sembilu mengenang mimpi-mimpiku..

Tuhan, izinkan aku menggapai asaku..
ku mohon... :'(

Senin, 09 April 2012

Negeriku, ah..

Istora, 18 maret 2012                   14.30 WIB

Sore itu hawanya panas sekali, atau barangkali memang seperti inilah hawa Jakarta setiap hari. Sekeluarnya kami dari ruang pameran itu telah kami putuskan untuk istirahat sejenak di depan gerbang nanti, sembari mencari es atau apapun yang dapat memuaskan dahaga kami.
Kami pun mulai berjalan melewati halaman Gelora Bung Karno yang luas itu.
"capek..." keluhku pada temanku. ia pun hanya meringis. Mungkin ia berpikir hanya sebatas yang terlihat saja. Backpack yang penuh terisi buku-buku yang baru saja ku beli, mukena, serta barang lain yang mungkin perlu dibawa memang telah bertengger di punggungku sedari tadi, dan memang punggungku sudah mulai pegal, tapi lebih dari itu rasa lelahku dari dalam sini (hatiku). Pikiranku mulai melayang-layang. Pada awalnya memang biasa saja, dan seharusnnya memang menjadi terbiasa dengan tetap acuh menutup mata dan telinga, tapi kurasakan tidak kali ini. Aku benar-benar lelah, aku bosan mendengar gunjingan, aku risih melihat selisih, dan aku tak sudi lagi mendengar caci maki. Aku seolah berada dalam lingkaran setan yang memuakkan, sampai rasanya ingin muntah. Bahkan aku terkadang merasa sesekali terjerembab dalam kubangan buatan setan-setan laknat itu, yang diiringi tepuk tangannya yang meriah, memekakkan gendang telingaku, hingga memaksa kelenjar lakrimalisku memuntahkan isinya.
"aku ingin pulang..." desahku dalam hati.
Tak terasa kami sudah sampai di gerbang. Mataku pun langsung mencari- cari sesuatu.
"gimana nih, gak ada yang jualan es.." kata temanku tiba - tiba. Tapi mataku masih saja tak berhenti mencari-cari, hingga sejurus kemudian ekor mataku menangkap satu sosok setengah baya di balik gerobaknya yang bertuliskan "es cendol". Wajahku pun menjadi berseri-seri dengan mata yang berbinar, mungkin seperti anak kecil yang merengek-rengek ingin permen lalu kemudian ada penjual permen yang lewat.
"itu ada es tukang cendol, yuk..." Ajakku pada temanku seraya tersenyum senang. Kemudian kami berjalan menuju bapak itu.
"es cendolnya dua ya pak, yang satu gak pake alpukat.." pesanku mantap.
Belum sempat bapak itu menjawab ada seseorang yang tiba-tiba memperingatkan, tapi tak dapat kupahami tentang apa. Sedetik kemudian rona muka bapak itu berubah menjadi gusar, sepertinya ia mencoba menutupi kegusarannya dengan tetap terlihat tenang sambil masih melayani kami dan beberapa pembeli lainnya. Tapi tatapan mata dan tangannya yang mulai gemetaran itu tak mampu membohongiku.
"ada apa ini?" tanyaku dalam hati.
Sementara pedagang yang lain sudah mulai lari tunggang langgang, bahkan bapak dengan perawakan gempal dengan gerobaknya yang bertuliskan "Soto Gebrak Khas Surabaya" itu pun begitu saja meninggalkan pelanggannya yang masih makan, dan kulihat juga ada beberapa kursinya yang tertinggal.
"SATPOL PP...." ku dengar seseorang menngucapkan kata itu, terjawab sudah pertanyaanku.
Suasana sore yang ingin ku nikmati seketika berubah menjadi mencekam bagi para pedagang itu.
Akhirnya bapak tukang es cendol tadi menyerah, "maaf ya dik..." ia berucap sambil buru-buru pergi meninggalkan kami yang belum sempat dilayani. Aku tertegun memandanginya pergi. Bapak itu menginngatkanku pada bapakku di kampung, jika ku tebak mungkin seusia dengan bapak atau mungkin lebih tua, dan jika ku amati dari sorot mata dan tubuhnya menandakan bahwa ia pekerja keras, sama seperti bapak. "Ah, bapak...." desahku perlahan.
Tiba-tiba bapak tadi melambai-lambai ke arah kami, sepertinya belum rela melepaskan rejeki yang akan diperolehnya melalui kami. Ternyata bapak penjual es tadi belum pergi, ia masih berada di tepi jalan sambil sesekali celingukan mencari-cari sesuatu atau lebih tepatnya memastikan sesuatu. Aku yang tersadar dari lamunan sesaatku langsung menarik temanku ke arah bapak itu. beberapa detik kemudian ia menyerahkan 2 gelas es cendol kepada kami dengan tangannya yang masih gemetar.
"berapa pak ? " tanyaku. "biasa, limang ewu.. " Jawabnya dengan logat jawa, kini suaranya yang bergetar. Sekarang aku tau bahwa bapak itu juga orang perantauan, sama sepertiku.
"mari pak..." pamitku sambil berlalu. Sejenak kemudian kembali ku balikkan badanku, tertegun memandangi sosok paruh baya itu.
Beberapa saat berselang tiba-tiba bapak itu berlari-lari sambil menarik gerobaknya, ia berlari sekuat tenaga, menoleh ke kanan dan kiri, kemudian menyeberang jalan ke arah berlawanan sehingga sedikit mengganggu kendaraan yang berlalu lalang, sementara sudah terlihat mobil Satpol PP yang jaraknya semakin dekat dengan bapak itu. Kini aku yang mulai ikut panik, kakiku pun mulai gemetar. Aku terus berdo'a dalam hati agar bapak tadi bisa lolos, sedangkan jarak antara Satpol PP dengan bapak itu semakin dekat, bahkan mobilnya sudah berada di depan bapak itu. Harap-harap cemas, sekarang seluruh perhatianku tertuju pada sosok itu.
Ternyata bapak tadi cukup cerdik, setelah mobil Satpol PP berada di depannya tapi sebelah kiri ruas jalan, sedangkan bapak penjual es cendol yang berada di ruas kanan jalan segera berbalik arah, otomatis dengan lalu lalang kendaraan yang padat akan menyulitkan mobil Satpol PP tadi untuk kembali berbalik arah mengejar bapak itu. Kemudian bapak itu berlari sekencang-kencangnya seraya menarik gerobaknya, ia kembali menoleh ke kanan dan ke kiri untuk selanjutnya menyeberang jalan kembali, ia seperti tak mempedulikan kendaraan yang lewat. Kejadian tersebut membuat lalu lintas sedikit kacau, tapi aku tidak memusingkan hal itu, yang penting adalah mengetahui bahwa bapak tadi lolos dari kejaran Satpol PP.
Mungkin bapak penjual es itu telah melanggar peraturan, tapi aku tidak peduli, aku hanya melihatnya dari sisi kemanusiaan, karena aku yakin dan bahkan sangat yakin sekali bahwa bapak itu tidak ada niat yang lain melainkan hanya sekedar mencari uang untuk menafkahi keluarganya di rumah. Apalagi untuk mengotori jalanan, bahkan aku tak pernah membayangkan bahwa seseorang yang merantau begitu jauh hanya berniat untuk mengotori jalanan. Aku merasa bahwa bapak penjual es tadi hanya satu dari sekian banyak orang yang berharap dapat mengubah nasib dengan merantau ke Ibukota yang bagaikan gula, yang dapat menarik semut dimanapun berada, dan juga yang "dipercaya" masih menjanjikan begitu banyak peluang kerja.
Membicarakan soal  peraturan dan hukum, dalam hatiku selalu bertanya-tanya, "masih tegakkah hukum di negeriku yang katanya negara hukum ini? ataukah justru hukum dijadikan sebagai perisai bagi mereka yang "berkuasa" untuk dapat makan uang rakyat seenaknya? atau mungkin negeriku ini juga dalam proses penjualan? apakah hanya tinggal menunggu waktu?"
Ah, aku tak mengerti, bukankah mereka yang berada di balik gedung perwakilan yang mengatas namakan dirinya "wakil" rakyat itu mengerti betul tentang hukum, peraturan juga perundang-undangan??. Tapi mengapa justru sebagian besar dari merekalah yang melanggarnya, melanggar sumpah janjinya?? atau jangan-jangan pada saat pengucapan sumpah janji itu mereka sedang tidur persis seperti pada saat-saat sidang itu??. Lalu apakah jika mereka melanggar hukum akan dikejar-kejar seperti para pedagang yang dikejar-kejar Satpol PP tadi?? aku yakin jawabannya adalah TIDAK !!!
Sepertinya hukum di negeriku ini memang telah dan hanya menjadi milik orang yang ber-kuasa dan ber-uang. Masih teringat jelas sekali kisah si mafia pajak itu, bagaimana mungkin seorang tahanan sel bisa dengan leluasa berleha-leha menonton pertandingan olahraga di Istora dengan memakai wig serupa Burisrawa seraya berkacamata serupa Afgan, jika tidak dengan membeli (oknum) hukum itu sendiri.
Ah, ternyata hukum di negeriku ini memang benar-benar sudah terbeli, tidak ada lagi kata persamaan hak dalam memperoleh perlakuan hukum, meruncing ke bawah, dan benar-benar tumpul ke atas. Menyedihkan !
Batinku bergemuruh hebat dan aku merasa sedikit geram bercampur iba hingga ku rasakan ada buliran air yang hampir tumpah di sudut mataku dengan masih memandangi sosok penjual es itu berlari, berlalu pergi hingga tak terlihat lagi. Lalu tiba-tiba saja ulu hatiku terasa ngilu, entah karena belum makan atau karena keadaan ini, yang jelas rasanya sangat tidak enak.

Minggu, 08 April 2012

Filosofi Rajawali





Beberapa hari yang lalu saya mengikuti sebuah pelatihan tentang self improvement, dalam pelatihan tersebut ada pembahasan yang cukup menarik tentang pelajaran hidup yang dapat kita ambil dari makhluk yang ada di sekeliling kita, salah satunya adalah tentang 7 prinsip burung rajawali yang akan diuraikan di bawah ini :
  1. Rajawali terbang bersama kelompoknyaRajawali terbang tinggi dengan rajawali lainnya, bukan dengan burung pipit atau jenis burung kecil yang lain, karena tidak ada jenis burung lain yang bisa terbang lebih tinggi kecuali rajawali.
  2. Rajawali tetap terfokus pada visinya & tidak terpengaruh dengan hambatan.Rajawali mempunyai penglihatan yang tajam. Bisa terfokus pada satu benda dari kejauhan hingga 5 km. Apabila terlihat mangsa di lokasi yang jauh, rajawali terus terfokus dan menuju ke lokasi tersebut sampai menangkap mangsa meskipun ada halangan atau hambatan.
  3. Rajawali tinggalkan misi lama dan mulai misi baru
    Rajawali tidak memakan apa yang telah mati, ia mencari mangsa yang  masih hidup untuk dimakannya. Hanya burung gagak yang makan apa yang mati. Itulah perbedaan gagak & rajawali.
  4. Rajawali menghadapi tantangan untuk mencapai keinginan yang lebih tinggi
    Rajawali suka angin topan. apabila awan bergabung dengan angin topan, rajawali bergairah dan langsung naik ke awan. Terbang melayang mengikuti angin mengistirahatkan sayapnya. Bagaimana dengan burung lain? ternyata hanya menyembunyikan diri di dedaunan pohon untuk berlindung !
  5. Rajawali berjuang menghadapi ujian untuk tetap berkomitmen
    Bagaimana sepasang rajawali bisa kawin?
    Ternyata ada ujian dari rajawali betina untuk si jantan !
    Rajawali betina terbang turun ke bumi dikejar rajawali jantan. Sampai di bumi rajawali betina mencatut rantinh di kukunya lalu terbang ke atas yang akan dikejar rajawali jantan. Sampai di atas, ranting dijatuhkan, rajawali jantan akan mengejar ranting itu dan dikembalikan ke betina. Hal ini dilakukan berkali-kali sampai rajawali betina puas dengan kegigihan si jantan, setelah itu barulah terjadi perkawinan.
  6. Rajawali memprioritaskan pola kehidupan keluarga dengan komitmen & tanggung jawab untuk keluarganya
    Rajawali jantan menyiapkan sarang untuk tempat bertelur bagi rajawali betina.
    Bagaimana induk rajawali mengajari anaknya terbang?
    Rajawali betina akan meletakkan anaknya di pinggir jurang. anak rajawali yang masih takut akan kembali ke sarang, namun rajawali betina akan melemparkan anaknya yang belum bisa terbang ke luar sarang sehingga langsung jatuh. Rajawali jantan akan menangkapnya dan membawa balik ke sarang. Proses ini dilakukan berkali-kali sampai anak rajawali berlatih menggerakkan sayap dan mulai terbang sendiri.
  7. Rajawali harus membuang kebiasaan dan sikap negatif, serta terus membangun karakter
    Pada saat umur rajawali memasuki tahun ke 40, paruhnya semakin bengkok, kuku-kuku kakinya semakin tumpul dan bulu rajawali akan menjadi tebal dan berat, sehingga tidak layak untuk terbang ke tempat jauh. hanya ada 2 pilihan, bertahan dengan keadaan demikian hingga akan mati perlahan atau berbuat sesuatu untuk memperbaiki keadaan. Lantas bagaimana rajawali menyikapinya?
    Ia akan mencari gua di atas bukit, yang pertama dilakukannya adalah mematukkan paruhnya ke batu hingga patah, kemudian menunggu hingga tumbuh paruh yang baru. tidak berhenti sampai disini, setelah paruh barunya tumbuh kemudian ia mulai mencabut kuku-kuku kakinya satu persatu dengan paruh barunya hingga semua kuku terlepas dan menunggu lagi hingga kuku-kukunya tumbuh. tidak berhenti sampai disini, setelah paruh baru dan kuku barunya tumbuh ia mulai mencabuti bulu-bulunya sampai habis, kemudian menunggu lagi sampai tumbuh bulu yang baru. dan akhirnya ia keluar dari gua dan siap untuk kembali terbang tinggi ke langit. Semua proses ini bukan hanya satu atau dua hari, tapi kurang lebihnya memerlukan waktu 150 hari. proses yang begitu lama dan menyakitkan namun ia jalani dengan penuh ketabahan, kesabaran, kegigihan serta keyakinan.

    Itulah gambaran secara singkat tentang burung rajawali. Jika dianalogikan dengan manusia dapat digambarkan sebagai seseorang yang mempunyai karakter yang kuat, loyal, berani menghadapi segala macam ujian bahkan berani menerjang tantangan demi menggapai apa yang diharapkan, berkomitmen tinggi, setia serta bertanggung jawab terhadap apapun, terlebih terhadap keluarganya. dan bahkan seperti tak memandang usia, ia tetap mampu terus membangun karakter dan berkarya hingga tua, hingga malaikat maut menyapa.

Kamis, 03 November 2011

asaku



sekalipun aku mampu menutupi rasaku darinya,
tapi tak mungkin untukku menutupinya dariMu..
mungkin aku bisa berbohong padanya,
tapi tak mungkin bagiku untuk membohongiMu..
meskipun ku tampakkan senyum didepannya,
tapi tak mungkin ku sembunyikan tangisku dariMu..
aku hanya bisa diam, namun ternyata aku pun diam-diam masih memperhatikannya dalam ke-diamanku,
aku memang hanya bisa diam, namun ternyata aku pun diam-diam masih mengharapkan hadirnya dalam hidupku,
aku memang hanya bisa diam, namun ternyata diam-diam masih saja ku sebut namanya dalam setiap untaian do'aku..
bukan karena ku tak terima akan keputusanMu,
bukan karena ku tak rela dengan kehendakMu..
hanya saja yang ku tau, ini belum akhir dari keputusanMu,
hanya saja yang ku mengerti, aku adalah manusia yang masih punyai hak untuk memohon padaMu,
masih punyai kesempatan untuk berharap padaMu. bukankah begitu adanya?
ku tau diriku hanya perempuan biasa,
ku tau ilmuku hanya sekedarnya,
ku tau aku tak punyai cantik rupa,
ku tau aku tak punyai berlimpah harta,
ku tau keluargaku hanya petani biasa,
ku tau aku tak terlalu pantas untuknya,
ku tau jurang diantara kami begitu dalam menganga,
ku tau rasa ini mungkin tak seharusnya terlebih dulu ada,
tapi aku tau, Kau pun lebih mengerti melebihi apa yang ku pahami tentang perasaan ini,
ku tau pasti Kau pun mengerti bahwa rasa ini bukan hanya sekedar rasa cinta biasa,

Kau tau pasti, ku ingin menyempurnakan agamaku bersamanya,
Kau tau pasti, ku berharap dialah imam keluarga,
tolong mohonkan maafku untuknya,
yang ternyata masih saja berharap padaMu untuk dapat mendampinginya..
yang ternyata masih saja memohon padaMu untuk dapat menyayanginya selamanya..
karena memang hanya inilah usaha yang ku bisa,
bukan berharap darinya, tapi berharap dariMu,
bukan memohon padanya, tapi memohon padaMu,
karena yang ku tau, Kau tak mungkin mengabaikanku, karena Kaulah Yang Maha Mendengar, Maha Penyayang..
karena yang ku tau, Kau tak mungkin menelantarkanku, karena Kaulah Yang Maha Pengasih, Maha Pencipta..
maaf atas permohonanku yang tak tau diri ini Tuhan..
maaf atas harapanku yang tak tau malu ini Tuhan..

T_T

Kamis, 27 Oktober 2011

untuk ibumu



ku tau aku bukanlah siapa - siapa,
ku sadari aku bukanlah apa - apa,
bahkan bukanlah sekedar sesuatu bagi mereka..
dan benar, dalam hal ini aku memang tak punyai hak untuk berbicara,
terlebih untuk protes, bahkan untuk sekedar merasa kecewa pun, tak ada hak bagiku..
tapi setidaknya untuk kali ini, biarlah coretan ini menjadi perwakilan dari apa yang tak mampu ku sampaikan padanya, pada beliau, pada mereka...

Ibu...
andai saja engkau memberiku satu kesempatan saja untuk bisa mengenalku, akan ku pastikan engkau tak kan kecewa memilihku..
Ibu..
andai saja engkau bersedia menatap mataku, engkau akan melihat kesungguhan hatiku untuk dapat menjadi pendamping yang baik bagi putra tercintamu, melihat kebersediaanku melahirkan & merawat cucu-cucu yang akan menjadi kesayanganmu, serta melihat kebahagiaanku yang telah engkau izinkan untuk menjadi puterimu, yang akan merawatmu kelak di hari tuamu..
Ibu..
rasa sayangku mungkin tak sebanding & mungkin memang tak kan pernah bisa membandingi kasih sayang yang telah kau curahkan untuknya..
tapi, tahukah engkau ibu ?
aku akan selalu sangat bersedia belajar darimu tentang bagaimana bisa mencintainya sepenuh jiwa & ragaku..
Ibu..
aku memang belum pernah bertemu denganmu, namun dari putera tercintamu itu, engkau telah menjadi salah satu sumber inspirasiku,
spirit tersendiri, untukku selalu berusaha memperbaiki diri..

Ibu..
apa aku tampak begitu tak tau malu ??
apa aku tampak begitu tak tau diri ??

yaa, mungkin seburuk itulah aku, hingga untuk sekedar mengenalku pun engkau sudah tak bersedia..
yaa, mungkin sebegitu tak pantasnya aku untuk putera tercintamu itu, hingga engkau tak sudi untuk sekedar melihatku..

Ibu..
maafkan aku yang telah begitu lancang mencintai putera tercintamu
ampuni aku yang telah begitu berani menyayangi putera kesayanganmu itu..

Ibu..
maaf atas ke-tidak tahu malu-anku ini..
maaf atas ke-tidak tahu diri-anku ini..

T_T